Minggu, 19 Maret 2006
Akhir-akhir ini sering banget dibahas tentang RUU-APP alias Rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi. Dimana2 orang pasti ngebahas ini. Gua sampe agak2 bosen n’ capek dengerin. Pas ngumpul ma temen ngomongin ini, pas lagi asik makan diluar, eh..sebelah meja gua jg ngomongin ini. Trus udah capek n’ pengen istirahat nyampe kamar, nyalain TV, yang dibahas jg RUU-APP, baca Koran jg sama aja. Mo online, temen gua jg ada yang ngirimin ttg RUU-APP ke email gua, hihihi…
Pada awalnya gua setuju2 aja bahkan cenderung gak peduli dengan RUU-APP. Karena tadinya gua pikir itu hanya ttg larangan akan foto2 bugil or tabloid2 porno. Sejauh itu sih gua setuju2 aja. Tapi setelah 2minggu lalu gua baca kompas, gua kaget banget!!! Ternyata RUU-APP gak cma melarang adanya foto2 bugil atau peredaran tabloid2 ‘nakal’ (which by the way is great), RUU-APP jg melarang perempuan mengenakan kebaya, atau pakaian2 yang dianggap ‘mengundang’ dan bahkan melarang perempuan untuk keluar rumah diatas jam 7 malam! Dan ironisnya, peraturan2 ini udah berlaku di Tangerang. (Di kompas jg diceritakan ada ibu2 yang ditangkap polisi karena berada di luar rumah lewat dari jam 7 malam). Gak masuk akal banget!!!
I totally support pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya. Tapi gua bingung sekaligus prihatin dengan peraturan yang melarang perempuan untuk mengenakan pakaian yang dianggap ‘mengundang’, seperti kebaya, tank-top, atau apalah itu..bahkan yang melarang perempuan untuk keluar rumah setelah jam 7 malem. (dengan alasan gak bermoral). Kok ironis banget ya? Ternyata bangsa yang kita cintai ini hanya menganggap wanita or perempuan itu hanya sekedar objek seks! Perempuan dianggap pelaku utama dalam merusak moral bangsa. Gak masuk akal banget ya? Misalnya ada seorang perempuan yang diperkosa, pasti yang disalahkan tuh perempuan. Yang katanya pakaiannya seronoklah..atau apalah itu…knp sang pemerkosa itu jarang banget disalahkan? Perempuan selalu jadi pihak yang lemah. Itulah…melihat RUU-APP perempuan seakan2 pelaku utama yang merusak moral bangsa ini.
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.
Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.
Misalnya: Masih ada orang Irian yang sehari2 memakai koteka, apa itu disebut pornografi? Nggak kan? Itu emang udah budaya mereka. Kan gak lucu kalo tiba2 mereka pake T-shirt or jeans. Itu bukan kebutuhan primer mereka. Boro2 buat beli t-shirt or jeans, makan aja seadanya kok. Atau kebiasaan mandi bersama di Bali. Apa itu pornografi? Nggak. Sekali lagi, itu udah budaya mereka. Buktinya, tingkat kriminalitas di Bali tuh minim banget. Kebiasaan itu gak mungkin dihilangkan hanya untuk kepentingan oknum2 tertentu.
Kita jg sering denger kan kalo anak kecil jg banyak yang diperkosa atau dilecehkan secara seksual. Apa itu karena anak2 kecil itu berpakaian sexy? Nggak. CHILDREN DON’T CARE ABOUT BEING SEXY! Masalahnya bukan pada cara berpakaian. Trus, knp donk masih ada pemerkosaan terhadap anak2 dibawah umur padahal mereka gak berpakaian sexy? The answer is on your mind..
Trus, about peraturan yang ngelarang perempuan berada diluar rumah setelah jam 7 malam. Logikanya aja yaaa…Misalnya aja si A, perempuan. Dia kerja di daerah Sudirman. Rumahnya di Bekasi. Pulang kantor paling cepat jam 5. Dengan segala kemungkinan macet, mungkin nggak dia nyampe di bekasi sebelum jam 7? Itu asumsi kl pulang kantor jam 5 lho. Gimana kl dia lembur? Apa karena peraturan itu dia kudu resign dari kerjanya? Trus, gimana mencukupi kebutuhan keluarganya? Kecuali kalo pemerintah mau mensubsidi rakyatnya per bulan sih oke2 aja. But, it’s impossible, right?
Mengenai kebaya atau pakaian yang terkesan sexy. I’m sure you all know bahwa kebaya tuh pakaian tradisional wanita sejak jaman dulu. We are proud of it. Masa tiba2 perempuan dilarang pake kebaya? Trus, kalo ada acara2 penting, pake apa donk? Ga usah qta2 yang orang awam deh…ibu negara kl ada acara2 kenegaraan pake baju apa donk? Masa pake celana panjang+ kemeja? Ngga sopan donk. Trus, kalo ada yang nikah pake apa? Pake sarung? Yang bener aja…hihihi…Inikan bisa dibilang pembunuhan karakter..Karakter wanita Indonesia..Ciieee..Masa perempuan ga boleh pake kabaya atau pakaian2 yang sebenarnya masih wajar2 supaya gak memancing gairah atau birahi laki2. Sejujurnya…emang hanya laki2 doank yang bisa “ngeres” or nafsu liat cewe berpakaian sexy? Perempuan jg bisa kok…Perempuan jg bisa “ngeres” kok..Tapi kenapa yang dibatasin tuh cewe doank? Yang laki2nya gimana? Masa Cuma perempuan doank? Pasti yang cowo2 mikir “ah, mana mungkin cewe “ngeres” liat cowo? Itu kan tugas cowo, hihihi…( no hurt-feeling lho, guys). Gua cuma mo nanya, apa setelah RUU-APP tuh disahkan, laki2 yang berprofesi sebagai polisi, atau ABRI atau apalah itu, pakaian mereka masih yang super ketat gitu? Liat aja misalnya cowo2 yang sekolah polisi, STPDN, Taruna, pasti bajunya yang super ketat gitu. Apa mereka pikir cewe ga bisa “ngeres” liat yang begituan? Kalo mau adil, jangan hanya perempuan donk yang kudu dibatasin dalam berpakaian..laki2 jg donk…deal? Hehehe…Trus, gimana dengan hombreng2 alias pria2 gay? Mereka yang hanya bisa “ngeres” ke sesamanya aja. Tetep ajakan ada ‘free-sex’ sesama mereka. Trus ini salah perempuan jg ngga? Duh, ayo donk stop treating women as an object. Please treat women as subject as well as men. Haayyooo..Masa oknum2 pembuat RUU-APP yang cerdas2 itu gak memperhitungkan masalah ini?
Sebenernya, tanpa qta berpakaian ketat/ agak terbuka, kl emang pikirannya udah “ngeres”, cewe pake sarung pun ya dia tetep aja “ngeres”. Lagian kan, emangnya cara berpakaian tuh menjamin moral seseorang? Gimana kl seseorang tuh berpakaian sopan, tapi cara jalannya atau lirikannya sensual gimana? Inikan bisa jg “mengundang”. Dari sini aja batasan2nya udah nggak jelas. Trus kalo gitu gimana donk? Apa anggota2 DPR yang membuat RUU-APP itu kudu masukin peraturan baru ttg cara berjalan atau cara menatap seseorang? Ya nggak mungkin kaaaannnn…! Kita bisa ditertawakan negara lain. Negara kita kan pernah masuk CNN dan ditertawakan gara2 melarang pasangan kissing di depan umum. I mean, kapan negara kita bisa maju kalo hal2 seperti ini masih dipermasalahkan? Daripada menghabiskan duit negara dengan rapat berulang2 mengenai RUU-APP ini, kenapa ngga membahas ttg pemberantasan buta huruf aja, atau korupsi, atau kemiskinan, kekerasan terhadap anak2 dan perempuan atau bahkan pengangguran? Indonesia masih banyak permasalahan yang ngga bisa dianggap sepele. Kenapa bukan itu aja yang dicari penyelesaiannya? Apa korupsi itu nggak merusak moral bangsa? Apa kekerasan itu nggak merusak moral? Disini kan yang jadi korbannya tuh perempuan. Atau nilai2 moral qta hanya terbatas pada apa yang dibahas di RUU-APP aja? Bagaimana dengan pembunuhan, pencurian, penggelapan, pelaku kekerasan, even pemerkosa? Apa mereka2 harus dibiarkan melenggangkan kaki dengan senang hati? Ask yourself…
Once again… gua mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya. Tapi TIDAK TENTANG PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG. Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya atau bahkan lebih bobrok dengan yang mereka coba hakimi.
Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.
Ini hanya sedikit pendapat gua mengenai RUU-APP yang marak akhir2 ini. Sorry kalo ada kata2 gua yang menyinggung pihak2 tertentu. Please try to look from the positive side. PEACE!!!